
Pernah dong denger lagu-lagu jadul alm. Chrisye, Faris RM, LCLR Prambors taon 70-80an atau yg agak sekarang-sekarang macem: Dewa atau Peterpan? Lirik-liriknya unik banget. Menurut gw sastra bangget. Apalah itu sebutannya, gw kagum sama yg nulis liriknya. Disaat musisi yg lain menuliskan lirik lagunya dengan bahasa yg ringan (baca: keseharian), mereka berani menggunakan kata-kata yg menurut sebagian orang dianggap aneh dan tidak nyambung. Atau dengan kata lain: berani tampil beda. Diawal debutnya Fariz RM yg masih SMA dah bisa nulis lirik sama hebatnya dengan seniornya seperti Guruh ,Chrisye, Kenan, Jocky dst. Penggunaan kata-kata sansekerta dan perumpamaan-umpamaan lainnya, oleh musisi-musisi tadi menjadikan karya mereka mempunyai kelas tersendiri dijamannya. Untuk di era Melenium ini, Dhani Ahmad dengan Dewa-nya juga Ariel dng Peterpan-nya atau musisi yg lainnya yg barang kali ada, tapi gw kurang perhatiin (sorry!) termasuk penulis lirik yang unik. Pertanyaannya kenapa mereka bisa menulis karya kayak gitu? Gw yakin jawabannya adalah karena mereka banyak baca, sehingga mereka mempunyai banyak refferensi. Itu baru contoh dari sisi musisi musik. Ada gak contoh yg lain? Coba kita cari lagi yuk?! Sepertinya untuk contoh yg satu ini kita pernah melakoninya. Di masa kita sekolah atau kuliah pasti pernah dong disuruh buat karya tulis atau yg lebih intelek lagi yaitu skripsi. Waktu ngebuatnya (baca: nulisnya) kita butuh banyak buku-buku atau bentuk tulisan lain yang bakal kita kutip sebagai refferensinya. Berbagai cara kita lakukan untuk mendapatkannya, bisa beli atawa pinjem. Sumber tulisan itulah yg kemudian kita baca, yg selanjutnya kita sarikan sebagai kutipan tulisan kita. Sampe akhirnya bisa dicantumin deh di daftar pustakanya di halaman buntut. Tuntutan tugas sekolah/kuliah menjadikan kita baca, dan kemudian kita menulis. Tapi bukankah banyak orang yg gemar membaca tapi gak pandai (baca: males) menulis? Yap! Itu memang benar. Karena menulis dibutuhkan keberanian dan ketelatenan. Sehingga gak salah kalo tulisan bisa menjadikan orang terprovokasi. Sekarang pertanyaan kita balik. Bisakah orang menulis tanpa banyak baca? Jawabnya singkat aja : bisa! Kalo sekedar nulis pastilah semua orang yang telah bisa baca tulis pasti bisa menulis. Yang membedakan adalah apa dan bagaimana tulisannya. Bisa dipastikan tulisannya bakalan kering, karena kurang refferensi. Ini buah pikiran gw. Makanya gw tulis judul posting gw kayak diatas. Kalo lo punya pendapat lain ya monggo wae. Bebas Boss! Silahkan berkomentar. Btw, penulis cerita silat kayak kho ping hoo itu refferensinya buku apa yah? Gw yakin pasti ada lah buku yg dia baca, masak sih dari hasil ngelamun aja. Label: Jejak Langkah
|