 Setelah mengulur waktu beberapa hari akhirnya gw dihubungi sama HRD yang meng interview gw minggu lalu. Memang sih harusnya gw yg telpon. Tapi gw pikir, gw mo tau seberapa penasarannya mereka sama gw.
Hari itu Jumat selepas jumatan dan istirahat. Yaa.. jam 2 an lah mereka menghubungi gw. Lewat HP tentunya.
"Gimana Pak?" tanya beliau. Ya.. gw katakan bahwa dengan penawaran sewaktu interview tersebut masih sama dengan yg gw dapet di tempat gw sekarang dong. Dia terdengar agak meng"iya"kan komentar gw itu.
Karena memang sewaktu interview gw sempat ditanya "Disana sekarang di bayar berapa?" Dan ternyata beliau ini menghargai "kapabilitas gw" sama dengan jawaban gw saat itu.
Singkat kata gw nolak dihargai segitu. Dan dia minta dihold sebentar telponnya. Karena dia mau tanya bos dulu.
Selesai tanya bos, gw ditambahin 10% dari harga sebelumnya. Pertanyaan itu muncul lagi,"Gimana Pak?"
Gw agak kecewa terus terang, karena ternyata gw cuma dihargai segitu. Masih dibawah plafon minimum yg gw canangkan.
Ya udah dengan hati-hati gw menjawab, "Maaf Bu! Kalo nilai segitu masih di bawah harapan saya."
Beliau telah menangkap esensi penolakan gw. Dan dengan beberapa kalimat penutup beliau mengakhiri pembicaraan telpon ini.
Campur aduk perasaan gw setelahnya. Yes ...kesempatan itu lewat, karena gw harus menghargai diri gw sendiri. Kata Mario Teguh sang SUPER itu, "Kalo bukan diri kita sendiri yg menghargai , siapa lagi?"
Gw telpon istri gw menjelaskan hal ini. Dia agak kecewa, "Sayang ya batal pindah?" Tapi gw besarin hati dia dengan ucapan, "Insya Allah kalo memang rejeki nanti juga dapet yg sesuai denagn harapan kita!"
Label: Jejak Langkah
|