Nge-warung atau kata lainnya "jualan" di rumah adalah usaha paling mudah buat kita memulai usaha.
Bisa bermacam-macam yang kita mau jual. Boleh sembako, jajanan anak-anak, jus, nasi uduk, lontong sayur, kue-kue tuk sarapan, sayur-mayur, buah-buahan, mainan anak-anak, dll.
Model usaha kayak gini, gw liat jarang banget yg bisa membesar. Kebanyakan cenderung stagnant alias segitu-gitu aja. Kalo ada kemajuan juga dikit amat.
Dari ngobrol sama temen sekantor, gw dapat pencerahan yg ngebahas masalah ini. Temennya temen gw ini cerita bahwa "dagang warungan ataupun toko gak bakalan bikin kita kaya, cuma bisa untuk sekedar hidup" gitu katanya. Lantas aja gw berfikir "Apa iya?"
Dari yg gw liat sih emang gitu! Ini disebabkan kita cuma jadi perpanjangan tangan dari agen tempat kita belanja yg jadi sumber barang dagangan kita. Jadi dapetnya cuma selisih harga jual dengan harga beli.
Sementara persaingan harga antar toko atau warung sangat tinggi. Belum lagi pemain besar yg model grup-grupan juga mempersulit kita menjadi besar.
Perlu visi yang kuat dari sang penjual untuk menjalankan misi membesarkan toko atawa warungnya, ditengah kondisi persaingan tersebut.
Yang paling ideal adalah menjadikan toko atau warung kita sebagai outlet produk yg kita buat. Intinya kita harus berproduksi, dengan mencari bahan dari hulu semurah mungkin, dan di produksi dengan ongkos serendah mungkin-kalo perlu dalam jumlah besar. Seterusnya jadikan toko kita outlet penjualan sebagai hilirnya.
Dengan memangkas jalur keagenan, margin keuntungan akan menjadi lebih besar. Itu yg di lakukan banyak Factory Outlet di mana-mana, utamanya di Bandung.
Kata temennya temen gw itu, "toko itu juga bisa menjadi penangkap peluang yg dikehendaki konsumen". Dengan input dari konsumen tersebut kemudian kita olah dan ditindak lanjuti untuk di produksi dan di cari pasarnya.
Semuanya memang harus dari kecil. Kemudian, buat itu stabil alias dimantepin. Lanjutin dengan membuat cabang-cabang alias di multiplication (faktor kali).